Tuesday, April 12, 2016

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU TAUHID





Penulis : Rahmad Fitriyanto



1.‘Alam Tauhid Dari Zaman Nabi Adam Hingga Nabi Nuh A.S
Adam mengajarkan tauhid yang khalis murni kepada anak cucunya. Merekapun tunduk kepada ajaran adam yang meng-esakan ALLAH SWT.
Setelah adam wafat, banyak lagi nabi-nabi yang dibangkitkan ganti berganti, untuk menuntun dan memimpin umat. Karena fitrah manusia yang suka dipimpin dan diatur, jika pemimpinnya sudah tidak ada lagi atau wafat, maka kehilangan pemimpin itu mengakibatkan penyimpangan-penyimpangan dari jalan yang lurus dari ajarn semula, menjadi keadaan yang kacau balau. Semenjak adam wafat semuanya kocar-kacir tidak berketentua, untuk mengatasi itu Allah mengutus pula seorang nabi yang akan mengatur dan memimpin umat manusia. Dan yang diutus ialah nabi nuh.
Dialah sebagai bapak atau nenek moyang yang kedua. Dialah pemimpin dan pengatur manusia setelah kehidupannya porak poranda setelah sepeninggalnya nabi adam.
Sebelum nabi nuh ini ada pula nabi-nabi yang tugasnya sama yaitu meneruskan ajaran nabi adam a.s.
Setelah nabi nuh wafat ummat kehilangan pemimpin pula dan kacaulah kembali sehingga

Tantangan Baru Dunia Pendidikan

Penulis : Rahmad Fitriyanto


UU Guru dan Dosen yang disahkan DPR pada Desember 2005 telah membukakan mata kita akan perlunya guru memiliki kompetensi sosial untuk selanjutnya ditularkan kepada anak didik atau generasi muda kita. Kebutuhan generasi muda kita dewasa ini akan kompetensi atau kecerdasan sosial sudah sangat mendesak. Mengapa?
Krisis multidimensi yang terjadi sejak 1997 telah memberikan kesadaran kepada kita bahwa sebagian masyarakat kita telah kehilangan kearifan-kearifan sosial yang unggul, seperti toleransi, kemampuan berempati, semangat dan kemampuan menolong, serta kemampuan bekerja sama. Akibatnya, masyarakat kita mudah menyalahkan orang lain, mudah kehilangan kendali emosinya, mudah terseret isu yang bermuara kepada kerusuhan, dan mudah curiga terhadap kelompok lain sehingga berujung kepada bentrokan yang konyol.
Begitu cepatnya kerontokan kearifan-kearifan sosial ini, sampai banyak media massa, termasuk i Kompas (Sabtu, 11 Februari 2006), mengangkatnya ke dalam rubrik ”Tajuk Rencana”-nya. Dicontohkan oleh Kompas bahwa kearifan sosial lokal seperti ’musyawarah dan mufakat’ tererosi deras dari masyarakat kita, sehingga kalau terjadi perbedaan pendapat antarkelompok yang muncul adalah pertentangan, bahkan bisa berakhir kerusuhan.

Post Terbaru

<iframe src="https://docs.google.com/viewer?srcid=1xOZv5RZz-l1aVuskMk_Rm8GC5yDje8Po/view&pid=explorer&chrome=false&embed...