Tuesday, August 5, 2025

Fazlur Rahman Tokoh Modernisme Islam

 

 Oleh : Rahmad Fitriyanto, M.Pd

1.      Fazlur Rahman

Fazlur Rahman dilahirkan pada 21 September 1919 di distrik Hazara, Punjab, suatu daerah di Anak benua Indo-Pakistan yang sekarang terletak di barat laut Pakistan. Ia dibesarkan dalam suatu keluarga dengan tradisi keagamaan mazhab mazhab Hanafi yang cukup kuat[1], salah satu mazhab sunni yang memiliki corak rasional. Fazlur Rahman didik dalam dalam keluarga muslim yang taat beragama. Ibunya sangat berpengaruh dalam pembentukan watak dan keyakinan-keyakian awal relegius Fazlur Rahman. Ibunya mengajarkan nilai-nilai kebenaran, kasih sayang, ketabahan dan cinta. Ayahnya, Maulana Sahab al-Din adalah seorang alim terkenal lulusan Deoband, meskipun ayahnya terdidik dengan pola keyakinan dalam pola pemikiran Islam tradisional, ia berkeyakinan bahwa Islam melihat modernitas sebagai tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan yang harus dihadapi.

Neo Modernisme Islam

  Oleh : Rahmad Fitriyanto, M.Pd

1.      Neo Modernisme

Neo modernisme merupakan gerakan pembaharuan Islam yang muncul sebagai jawaban terhadap kekurangan atau kelemahan yang terdapat pada gerakan-gerakan Islam yang muncul sebelumnya, yaitu revivalisme pra modernis,modernisme klasik, neo-revivalisme. Aliran pemikiran ini hadir untuk mengkritisi dan sekaligus mengapresiasi aliran-aliran pemikiran Islam yang lain yang timbul sepanjang sejarah perjalanan umat Islam, serta juga pemikiran yang berkembang di Barat.[1]

            Dalam masa tersebut menurut Fazlur Rahman dibagi menjadi empat tipologi yaitu :

a.      Revivalisme pra modernis

Dalam prospektif historis, merupakan gerakan Islam yang tumbuh berkembang pada abad kedelapan belas sebagai keprihatinan yang mendalam terhadapa kemerosotan sosio-moral masyarakat Muslim yang terjadi saat itu. [2]Kelompok ini melihat kemerosotan itu terjadi akibat umat Islam menyimpang dari ajaran Islam yang benar, maka unutk mengatasinya, kelompok ini menyerukan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yaitu melalui Ijtihad dan meninggalkan segala yang di anggap bid’ah. Akan tetapi gerakan revivalisme terlalu menyederhanakan kurikulum pendidikan dan mengurangi penekanan perhatian (the implaizing) terhadap warisan inrtelektual abad pertengahan sehingga terjadi kemiskinan intelektual.[3] Pelopor gerakan ini diprakarsai oleh gerakan Wahabiyah di Arab, Sanusiayah di Afrika Utara dan Fulaniyah di Afrika Barat. Gerakan ini muncul pada akhir abad kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas.

 

Post Terbaru

<iframe src="https://docs.google.com/viewer?srcid=1xOZv5RZz-l1aVuskMk_Rm8GC5yDje8Po/view&pid=explorer&chrome=false&embed...